Garden Of Avalon - 00
Note: Ini bukanlah kualitas translate terbaik, kalau sudah selesai disarankan untuk mendownload versi Epubnya.
Chapter 00 - Di sebuah taman bunga
Sebuah ladang yang dihiasi oleh bunga dari kalangan
warna. Menghalangi pemandangan panorama yang membelah langit dan tanah, dari ke
jauhan hanya ada hutan. Tidak ada ternak begitupun rumah yang dibuat oleh
manusia disini, bahkan suatu konstruksi seperti dinding pembatas, kastil dan
negara.
Hari demi hari, ditemani dengan matahari musim panas,
pada siang hari, sementara malam, diselimuti angin musim gugur dan langit musim
dingin.
Tanah ini dihuni oleh rakyat bunga dan koloni serangga.
Dimana hutan adalah rumah bagi air, tempat hijaunya tanaman dan ragam hewan.
Dan, didekat danau tinggallah sesosok fae yang cantik.
Pengetahuan manusia tentang surga hanyalah omong kosong
belaka,tempat dimana sebuah pulau yang berada di ujung dunia, dimana manusia
tidak bisa menginjak kaki mereka disana. Sebuah mitos tentang tempat kecil ini,
yang dikenal sebagai sebuah “Tanah musim semi abadi,” sebuah pulau tempat
untuk apel, sebuah utopia yang jauh dari pemahaman. Meski ada bersama dengan
sejarah umat manusia, namun itu adalah tanah asing yang tidak memiliki siklus
kehancuran yang selalu terjadi secara alami di suatu planet.
Namanya adalah Avalon: The inner sea of the planet
(Lautan terdalam [suatu] planet). Itu adalah nama lain untuk tempat dimana jiwa
bumi tinggal.
“Tidak, aku seharusnya mengatakannya dengan ekspresi yang
lebih tepat. Lagi pula, tempat ini juga berada di dalam(inner) dan luar(outer)
sisi. Memiliki kordinat dan posisi yang sama, hanya ada beberapa fase saja.”
Di taman ini, ada entitas dalam wujud manusia. Seorang
pria yang memakai jubah putih yang nampak sederhana, namun sebenarnya jubah itu
dipintal dengan kain terbaik. Sinar matahari menyinari rambutnya yang panjang,
membuat warna pelangi hasil ilusi disekitarnya saat ia sedang menatap dengan
tenang ke arah yang jauh.
Ia berjalan melalui lautan bunga, berbicara kepada mereka
seolah mereka adalah teman. Tanpa melukai satu kelopak-pun di tanah, ia bersenandung
tanpa ragu jua malu. Pria itu tak diragukan lagi adalah seorang pengembara
bijak yang tersesat ke tanah asing ini.
Lagi pula, dia sendiri tidak tahu jalan pulang, atau
mungkin dia tak punya tempat untuk kembali. Jika kau memberitahunya, mengenai
tempat ini, yang adalah sebuah dunia setelah kematian, ia mungkin akan
mengangguk, menerima begitu saja apa yang terjadi. Tapi ia tak takut sama
sekali, karena baginya, ia adalah makhluk asing. Legenda mengatakan, bahwa
tidak ada manusia yang dapat memasuki surga ini, meskipun, dia sendiri
juga sebenarnya bukan manusia. Ia hanya mengambil wujud manusia dan
memakainya,membuat ilusi seolah ia adalah manusia.
Baginya, dunia luar dan surga ini sama saja: Rumah orang
lain. sementara ia hanya mampir. Sedari awal, dia merasa value untuk
mendekati, baik manusia atau surga, ditargetkan oleh wanita yang dimilikinya.
Dijauhi, dia memilih untuk melintasi pembatas dan memasuki tanah asing
ini, hanya untuk iseng saja.
“Tapi ini mengerikan. Magical Energy disini sangat
kuat. Seperti sebuah vakum yang meresap, bahkan untuk bernafas saja bisa
membunuh seseorang. Mungkin bagi para penghuni yang tinggal disini, akan dibuat
sesak nafas oleh energi sekuat ini. Tempat ini mungkin disebut surga, tapi
bukankah, efektif juga untuk menggunakan ini sebagai senjata?”
Selama ia sedang mencurahkan isi pikirannya, pria itu
terus berjalan menuju sekitar taman.
Era masa kini yang ia bicarakan , merujuk ke era di sisi
luar dunia ini. Meninggalkan pulau yang umurnya lima puluh abad yang diambang
kehancuran, ia pergi seorang diri ke surga ini. Pria ini menjabat sebagai magus
sekaligus penasihat raja tertentu, tapi sebagai bawahan raja untuk melakukan
pertempuran terakhirnya, ia terpaksa melarikan diri karena alasan pribadi yang
melibatkan seorang wanita.
“Ah... seperti yang kuduga. Mordred dapat membangun para
bangsawan yang telah diadili oleh raja yang keras akan idealisnya, dan bangkit
untuk memberontak. Mengutuknya karena musim dingin yang dahsyat akhir – akhir
ini, dengan begitu, dimulailah pemberontakan mereka.”
Pria itu terus berjalan dengan susah payah, bunga yang
sedari tadi berusaha untuk ia hindari, mulai berkurang jumlahnya.
Pulau ini mungkin tidak memiliki ujung, tapi bukan
berarti sekitarnya tidak berubah sama sekali. Semakin dekat ia dengan sesuatu
yang seharusnya menjadi akhir, semakin berubah taman ini menjadi tanah yang
tandus yang menyerupai tanah inggris di sisi luar dunia. Melangkah ke tanah
yang sudah mati, pria itu kembali bersenandung dan memutar – mutar tongkatnya.
Meskipun tidak ada tanda – tanda magecraft yang muncul
atau sesuatu yang janggal, bunga tiba – tiba bermekaran disekitar kakinya.
Mereka tidak tumbuh karena keinginan si pria untuk menghiasi taman ini, ataupun
untuk mengasihani tanah yang sudah mati ini. Fenomena seperti ini sudah alami
layaknya makhluk ini bernafas.
Bunga – bunga untuk dunia.
Mimpi untuk para rakyat.
Dan masa depan untuk sejarah kita.
Itu adalah kekuatannya, yang dimana juga sifat aslinya.
Namanya adalah merlin, sang Mage Flower; penyihir yang
berdiri dipuncak, bahkan diantara banyak penyihir terhebat dalam banyak mitos
dan legenda.
Keturunan dari seorang wanita manusia, dan sesosok
incubus. Ia mempunyai mata yang dapat melihat seisi dunia, sebuah bukti ia
menguasai ilmu tertinggi magecraft.
“Yah... mungkin memang hebat, tapi menaburkan benih-lah,
yang hanya bisa aku lakukan. Mampu melihat lebih jauh dari kebanyakan orang,
bukan berarti kita bisa di bandingkan. “
Clairvoyance: Sebuah kemampuan untuk mengamati sesuatu
dari satu tempat yang jauh. Di zaman kuno, para dewa meninggalkan bumi ke
tangan para shaman, yang dibekali kekuatan untuk melindungi umat manusia.
Terlepas dari seberapa banyak dan banyak magic circuit mereka atau skala ritual
magecraft yang mereka lakukan, seseorang tidak dapat dianggap berada dipuncak
tanpa mata ini.
Merlin diberkahi dengan mata yang dapat melihat seluk
beluk dunia. Sejak lahir, ia memiliki kemampuan untuk mengamati segala sesuatu
di era-nya, bahkan tanpa memerlukan langkah sedikitpun, hingga ke detail
terkecil.
Sebelumnya pernah ada penyihir yang dapat melihat masa
lalu, bahkan masa depan sekalipun, yang tidak perlu diragukan lagi. Namun, satu
– satunya penyihir yang mempunyai clairvoyance hanyalah merlin seorang. Para
pendahulunya telah membawa kehancuran bagi alam mereka sendiri dan menhilang
dari dunia para manusia.
Jika pengetahuan adalah fondasi dan langkah yang lebih
jauh dari magecraft, maka para pemilik clairvoyance telah mencapai kebenaran
dari dunia. Mereka terlahir sebagai manusia namun tidak dapat memahami nilai –
nilai mereka sendiri.
Tanpa memiliki kemampuan untuk melihat masa lalu, merlin
tak dapat mengerti bagaimana umat manusia menjalani kehidupan mereka, ia hanya
mendapatkan sekilas perasaan mereka. Mengesampingkan kehidupan umat manusia, ia
berkesan bahwa kehidupan mereka sama sekali tidak menarik. Ia sadar akan
kejadian pada era-nya, dan tahu bagaimana mereka akan berakhir juga.
Baginya, dunia tidak ada bedanya dengan sebuah lukisan.
Sebuah lukisan yang hampir mirip dengan keajaiban, tentu menurutnya itu layak
untuk diapresiasi. Tapi semakin banyak hal menarik ia temukan, semakin besar
rasa keter-asingan membayangi dirinya. Sebagai orang yang hanya menabur bibit
benih, ia memiliki perskeptif layaknya seorang dewa. Kalau saja orang yang mau
mendampinginya, untuk mendengarkan segala keluhannya, mungkin hidupnya akan
jauh berbeda.
Itu adalah poin dimana dia akan mengambil nyawanya
sendiri, dan naik ke takhta dimana dia akan ditertawakan oleh para
pendahulunya. Atau lebih tepatnya, ia tak memiliki waktu untuk tidak
memikirkannya.
Tetapi merlin memiliki satu tanggung jawab yang tersisa,
yang harus ia pastikan dengan kepala matanya sendiri. Kematian orang – orang
tertentu. Momen terakhir seorang raja yang ia besarkan sendiri.
“Aku bertanya – tanya... era para dewa telah berakhir,
dan era para Fae juga segera menyusul. Yang akan datang adalah era umat
manusia, tetapi itu juga ditakdirkan berakhir suatu hari nanti. Ketika planet
berhenti berputar, waktunya akan tiba, dimana kita akan kembali mengisi cosmos.
Mereka yang tak dapat hidup tanpa daging akan ditinggalkan sebagai artefak. Dan
yah... aku bertanya – tanya, kenapa aku begitu terjalin dengan umat manusia...”
Merlin lahir dari seorang putri Welsh dan sesosok
incubus. Sebagai hibrid, ia adalah bentuk dari kehidupan yang lebih tinggi,
memiliki spirit dan kemampuan hidup dari manusia-keberadaannya yang setengah
matang. Dia sendiri berpikir bahwa ia besar sebagai anak incubus, ia hanya
ingin bermain di dunia khayalan. Pada saat yang sama, ia bersukacita karena
kehidupan individual manusianya, yang telah ia kembangkan, ia mampu menopang
dirinya sendiri diatas mimpi orang lain, tetapi juga termasuk dirinya sendiri.
Meskipun asalnya seperti itu, merlin tidak pernah tumbuh
untuk membenci manusia. Faktanya, ia memujanya secara berlebihan. Alih – alih
berdiri bersama saudaranya, para peri dan giant, ia mendapati dirinya berada di
pihak manusia, membesarkan dan menasihati banyak raja untuk membawa zaman yang
lebih baik bagi umat manusia. Bahkan diantara orang – orang dan kesatria, ia
selalu memiliki senyum yang selalu terpampang di wajahnya, yang sangat amat
menikmati aktivitasnya.
Kebijakannya adalah memerintah layaknya bunga, salah satu
alasan mengapa ia menjadi sebagai salah satu kingmaker terkemuka di dunia. Ini
adalah impiannya untuk menyelesaikan lukisannya dengan cara yang indah, seperti
“Akhir yang bahagia untuk umat manusia.” Tapi tidak ada rasa cinta untuk
umat manusia, hanya untuk satu manusia saja, dapat ditemukan di sana.
Bagi manusia, merlin nampak seperti sosok yang periang,
tetapi esensinya jauh berbeda. Dari perspektif manusia, sifatnya akan lebih
mirip seperti serangga. Makhluk yang sangat mekanis dan objektif, sedikit bodoh,
dan tak cocok untuk menjadi makhluk tercerdas di planet ini.
Merlin menyukai hal yang agung dan indah, tetapi tidak
ada alasan khusus mengapa ia menyukai ‘daya tarik’ ini. Mereka dengan mudah dan
sempurna menambal lubang di hatinya. ‘Warisan umat manusia’ juga menarik
baginya, tetapi ia adalah makhluk yang tidak dapat berempati dengan manusia
yang membuatnya.
“Karya seni ini sangat indah. Meskipun, aku tak begitu
tertarik dengan isinya, atau-pun memahami suka maupun duka yang pelukis
gambarkan pada karyanya ini. Aku tak melihat nilai didalam nya dan juga aku tak
memahaminya. Aku hanya merasa itu indah.”
Merlin sendiri sadar betapa buruk seleranya, tetapi ia
tidak dapat mengubahnya. Lagi pula, itu adalah nilai yang ditanam di dalam
incubus secara alami. Bagi mereka, sebuah mimpi hanya dinilai dari gizinya,
bukan isinya. Ini tak ada bedanya dengan manusia, yang tidak memikirkan hewan
yang mereka makan di meja, tidak peduli seberapa terkenal kehidupan yang mereka
jalani.
“Aku menopang diriku sendiri dengan memakan mimpi.
Meskipun, terlepas dari keinginanku untuk mimpi bahagia, secara praktis, mimpi
buruk jauh lebih menyehatkan. Kau bisa bilang, agar kebahagiaan menang diatas
keputuasaan, seseorang harus harus menghadapi tantangan lebih sulit, bahkan
mimpi buruk yang paling sederhana. Dengan begitu, ini memberikan beban yang
lebih besar pada si pemimpi.”
Merlin berhenti, berifikir bahwa ia sudah cukup jauh
hingga cakar penyihir tak bisa menjangkaunya lagi. Didepannya berdiri sebuah
gerbang, terbuat dari batu yang dipahat kasar, ukurannya yang raksasa
mengingatkan pada stonehenge. Diluar gerbang, terbentang dataran tandus yang
sama seperti sebelumnya.
Tertulis sati frase diatasnya: ‘Hanya orang tanpa dosa
yang dapat lulus ujianku.’
“Begitu... nampaknya aku ditipu.”
Merlin mengangkat bahu dan berjalan melewatinya, bunga –
bunga terus tumbuh di belakangnya, karena ia tak berusaha untuk menghindarinya.
Dalam sekejap, dataran yang ia pijak berubah total. Dinding batu besar meledak
dari dalam tanah, melingkarinya seolah menjebaknya. Mereka membubung di
atasnya, memanjang secara bertikal tanpa akhir yang terlihat. Itu nampak
seperti menara tanpa langit – langit.
Dia berbalik dan melihat bahwa gerbangnya telah
menghilang, meninggalkannya di tengah menara batu yang sangat tinggi. Sangkar
lima meter yang diukir oleh surga itu sendiri. Ini adalah bentuk sebenarnya
dari bidang terbatas ini. Tampaknya seseorang yang membenci merlin telah
memastikan dia tidak akan pernah menginggalkan menara ini selama sisa hidupnya.
“Aku benar – benar tak dapat mengeti manusia. Kutukan
sebesar ini pasti membutuhkan skala yang sangat besar, bahkan nyawa untuk
caster itu sendiri. Sungguh aneh. Aku tidak ingat melakukan apapun yang membuat
gadis itu membeciku sampai segininya. Tapi yah, jika aku tidak mengingatnya,
itu pasti bukan sesuatu yang penting.”
Hanya yang tak berdosa yang boleh lewat.
Merlin melangkah melewati gerbang, tahu itu jebakan,
karena kata – kata itu menyengatnya. Meskipun menginginkan akhir yang baik bagi
umat manusia, ia tidak memendam cinta kepada manusia itu sendiri. Atas nama
kemakmuran, ia mengorbankan nyawa manusia yang tak terhitung jumlahnya dan
memperlakukan mereka seolah – olah mereka adalah serangga, baik maupun jahat,
tidak ada masalah baginya, begitupun cinta atau benci. Akibatnya, dia tak
merasa bersalah, sampai – sampai dia berpikir tentang frasa ‘tanpa dosa’ tidak
bisa merujuk pada orang laind selain dirinya.
Dari sudut pandang yang lebih luas, dapat dikatakan bajwa
merlin memang mencintai manusia, secara proaktif melibatjan dirinya dalam
urusan mereka dan menikmati tindakan mereka. Doa hanya membantu umat manusia
dan membesarkan raja – raja mereka tanpa perasaan tanggung jawab ataupun
bersalah jika sesuatu terjadi kepada negera mereka setelah.
Atau setidaknya sampai dia mendengar kata – kata
perpisahan dari seorang gadis. “Yah... aku pikir itu tidak bisa dihindari.”
Didalam sel yang sempit, pria itu duduk di atas sisa –
sisa batu yang menonjol. Itu terlalu sulit untuk dijadikan tempat duduk yang
layak, tapi tingginya sempurna, memungkinnya untuknya melihat satu – satunya
jendela di dinding.
Baru sekarang dia menyadari alasan sebenarnya dia ada di
sini.
Langit yang dilihatanya melalui jendela bukanlah britain
yang sebenarnya. Tetapi selama ada di era yang sama, pria itu dapat
melihattempat mana pun di dunia. Mage flower mengenang perjalanan yang telah ia
lalui, dan mulai berbicara dengan cath palugh, familiar yang bersembunyi di
jubahnya.
Akhir sudah di depan mata. Jadi sebelum itu, mari kita
bicara sedikit tentang masa lalu.
Posting Komentar untuk "Garden Of Avalon - 00"
Posting Komentar